30 Des 2012

Unspoken Diary: ???

HEXACROWN’s
Unspoken Diary
“???”


I was in the middle of somewhere with so many people walking down the street. They seemed to be very busy though, I didn’t know any of them. I looked up at the sky and saw so many planes, hot air balloons, zeppelins, and many other things that you wouldn’t understand. When someone called “Friend” came to me and asked me if I want to go around. “Well, sure,” answered me. There were so many vendors with strange things they sold, one thing that I remember, they sold monkey head’s robot, or something like that.
     We entered a building, and went to the top of it. And when we arrived, a “Friend” suddenly opened a door to a balcony. The sun shone so bright that I had to flicker. It was a very tall building; the tallest building that I’ve ever seen, we may say. I already forgot how to get there, but it was fun for sure. There, I could see planes more clearly and also another building in front.
     We began to walk on a bridge, a very strange bridge, to go to another building that I told you earlier. The floor of the bridge is made with glass. Therefore, we could see anything under of it. And I told you it was a very tall building, wasn’t I?! And there were no handhold at all! Well, we just had to be careful, didn’t we?
So I stepped forward little by little. And I realized it was only about one meter away from the second building. So I kept focused and moved forward. But suddenly I stepped with nothing below me! Holy crap! How could this happen? I knew that I stepped on a right place! I fell down from that building and when I realized, I was in my bed with the same blue ceiling and all the books in my bookcase.
... ... ... ... What the heck?





*I am living in a non-native English Country. English is my second language. My apologies for any grammatical, semantic, or logical errors which I got wrong.


20 Des 2012

Unspoken Diary: A Bird that Won't Fly

HEXACROWN’s

Unspoken Diary
“A Bird that Won’t Fly”

                It smiled. It laughed. It danced with elegancy. It sang a very pure melody. A cheerful female bird, they said. She would not care about other things around her. She just played and dreamed every day. But why, there was an impurity around her? When she noticed, she was not in the world like she had thought.
       Her smile suddenly disappeared. Her laugh turned into tears. She was in a cage, a very big and cold cage especially made for her so no one could see her inside the cage. Alone and scared. She tried to find a way out, but the only thing that she found was a dead end. She could see other birds out there; fly with freedom on their wings. But what about her? She just a disabled bird now. She does not sing anymore. She can only stare at the sky, full of hopes and tears.
       Why? Oh, Why, graceful bird, you don’t sing anymore? Even when somebody has already succeeded to open the cage, you don’t fly anymore? She also wonders why she can’t fly anymore. Scared by the emptiness of this cruel world, the trauma that was once in her deepest heart, have made too many scars and wounds. They said wounds heal, but what about the scars?
       She will learn. She will fight. She will try not to get scared of high anymore. One day. She believes that one day she will learn how to fly and taste the sky again. Freedom.









*I am living in a non-native English Country. English is my second language. My apologies for any grammatical, semantic, or logical errors which I got wrong.

7 Jul 2012

The Last Class

The Last Class
Based on True Story
By: Hexacrown

          
Hal ini berawal mungkin sekitar satu setengah tahun yang lalu. Saat kami harus mengucapkan kata perpisahan kepada salah satu guru, dan harus bertemu dengan guru baru yang sebenarnya sudah mengajar jauh sebelum guru kami. Sebut saja namanya Mr.Rudi. Beliau merupakan guru TIK yang misterius pada awalnya. Wajahnya yang tenang dengan kumis sebagai ciri khasnya, cara berjalannya yang tegak, sifatnya yang pendiam, membuat kami sedikit merasa takut. Kami bahkan khawatir kalau beliau akan mengintimidasi kami. Akan tetapi, salah satu guru yang dekat dengan kami, dan merupakan teman baik Mr.Rudi, mengatakan bahwa Mr.Rudi merupakan guru yang sangat baik. Kami pun setuju untuk diajarkan oleh beliau.

            Hari demi hari berlalu, dan akhirnya tibalah hari Kamis, hari dimana pelajaran TIK dimulai. Kami memasuki ruang tersebut dengan hening. Akan tetapi, saat beliau berbicara, entah mengapa, timbul rasa hangat di hati kami. Beliau berbicara dengan lembut dan ramah, hal yang sangat jauh dari imajinasi kami. Tak terasa, pelajaran selesai, beberapa murid sudah merasa dekat dengan beliau. Kami bahkan menantikan esok hari, untuk belajar bersamanya kembali.
           
            Kami pun akhirnya menjadi dekat dengan beliau. Imajinasi liar dan prasangka kami merupakan hal yang sangat bodoh karena semuanya itu hanyalah khayalan belaka. Beliau begitu berbeda dari guru-guru kebanyakan. Beliau tidak hanya mengajar, tapi juga memberikan rasa peduli kepada siswa-siswi nya. Kami bahkan sudah menganggapnya sebagai sesosok ayah di sekolah. Pelajaran yang diberikannya merupakan pelajaran yang ditunggu-tunggu oleh kami. Bukan hanya itu, diluar jam pelajaran, kami dengan Mr.Rudi dan guru-guru lain tetap berkomunikasi layaknya keluarga baru di sekolah.

            Waktu terus berlari begitu cepat. Kami memasuki semester terakhir di kelas dua. Hal yang tak terduga pun datang bagaikan kilat yang menyambar. Desas-desus yang beredar bahwa beliau tidak mengajar lagi di tahun ajaran baru. Desas-desus bahwa hal tersebut dikarenakan atasan yang mengeluarkan beliau. Desas-desus bahwa kami semua akan diajarkan oleh seorang guru baru “lagi” yang pastinya akan sangat sulit untuk kami terima. Desas-desus tersebut membuat kami putus asa dan terjun ke dalam duka.

            Kami semua berharap dan terus berharap bahwa hal tersebut akan tetap menjadi desas-desus. Hingga waktu menuju kenyataan tiba. Kelas terakhir, menit-menit terakhir belajar bersamanya. Beliau berdiri di depan dengan tegaknya, mengingatkan kami pada awal kami berjumpa, mengingatkan kami betapa putus asanya kami ingin mengulang hal tersebut. Beliau mengatakan hal yang tidak ingin kami dengar, kata-kata yang akan menusuk hati kami.

            Kami mengingat kata-katanya dengan jelas. Beliau berkata, “Mungkin Bapak gak akan ngajar kalian lagi di tahun ajaran baru. Bukan berarti Bapak nelantarin kalian, Bapak cuma ingin yang terbaik buat kalian. Kita juga masih bisa ketemu kok. Kalian akan diajar sama guru baru. Meskipun demikian, kalian harus bisa berbaur sama guru tersebut. Kalian harus baik sama guru baru tersebut. Bapak doain semoga kalian bisa sukses nantinya.”

            Kata-kata yang penuh dengan rasa kepedulian. Meski beliau mengalami masa sulit, beliau tetap tegar dan mengajarkan kami hal-hal lain yang berguna selain TIK, mengajari kami begitu banyak hal yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata. Beliau telah mengajari kami arti kehidupan.

            Kelas terakhir. Kelas Terakhir. Kami akan selalu mengingatnya, baik dalam senyum maupun air mata. Mungkin kami masih bertemu, berbicara, dan bercanda tawa dengan beliau. Namun, kami akan tetap menyimpan memori indah saat kami belajar bersamanya.

            Kami tidak dapat membalas jasa-jasa beliau dan kasih sayang yang telah diberikan oleh beliau. Hanya doa dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya yang dapat kami berikan kepada beliau. Tanpa beliau, blog ini tidak akan pernah tercipta. Semoga Mr.Rudi akan selalu berbahagia dimanapun beliau melangkah. Terima kasih, Mr.Rudi :)





<And It Is Not The End>



           

3 Feb 2012

Cursed and Blessed (Part IV)


 Written by: Hexacrown
                Havenland. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di tempat berpenghuni selain Lide. Sebuah kastil yang dikelilingi oleh pepohonan yang lebat serta diselimuti oleh salju yang indah. Aku melihat kabut tinggi berwarna ungu tipis mengelilingi kastil, tepat di depan pagar sejarak kurang lebih satu meter. Vance berhenti. Aku menatapnya bingung. “Ayo,” katanya pelan. Kami melewati kabut itu dan berjalan hingga di pintu masuk. “Tampaknya Ketua Penjaga ingin bertemu denganmu,” kata Vance.

“Bagaimana kau bisa tahu?”
“Kabut tadi adalah roh keabadian. Diciptakan sendiri oleh Ketua untuk melindungi Havenland dari para Joker. Tidak ada yang bisa masuk selain Ace dan mahluk yang ingin dijumpai oleh Ketua. Bagi yang melanggar akan langsung mati.”
“Apa?! Kau ingin membunuhku ya?! Bagaimana jika aku mati tadi!” tanyaku ketus.
“Sekarang tidak, kan? Cepatlah, kau membuatnya menunggu,” katanya sambil menarik tanganku masuk ke kastil.

Di luar mungkin tampak sepi, tapi tidak dalamnya. Seluruh mata menatap Vance dan aku. Vance tampak menghiraukan mereka. Aku yang masih ditarik paksa Vance, hanya menjawab tatapan mereka dengan wajah bingung. Tibalah kami di ruangan yang Vance sebut “Ketua Penjaga”. Vance langsung memberi hormat. Aku mengikutinya. “Bangunlah, Vance, Delphine,” kata Ketua Penjaga. Aku menatapnya. Ia tampak berusia 50-60 tahunan. Ia tampak biasa bagiku, hanya saja baju bajanya tidak biasa menurutku. Ia seperti kakek perkasa di medan perang. “Bagaimana semua orang yang belum kukenal bisa mengenalku?” kataku berkata kepada diriku sendiri. “Tentu saja aku mengenalmu Delphine. Kau lebih berharga daripada yang kau tahu. Ngomong-ngomong, namaku Arthur,” katanya sambil tersenyum.

“Menurut Vance, aku dipanggil kemari karena Ketua ingin berbicara denganku. Apa itu benar?”
“Ah, tentu saja. Vance, boleh tinggalkan kami berdua?” Vance meninggalkan kami tanpa berkata apapun, hanya memberi hormat dan akhirnya pergi. “Vance adalah seorang Ace yang sangat disiplin. Ia merupakan Ace yang paling sempurna di kalangannya, meskipun sifatnya dingin. Itulah alasannya mengapa ia yang memanggilmu kemari,”

“Karena sifatnya yang dingin?” tanyaku ketus.
“Bukan, karena ia adalah salah satu yang terbaik. Kau adalah tamu terhormat, Delphine Frozz. Kau adalah salah satu pengguna Kristal Atlantis.”
“Siapa saja bisa menggunakannya. Aku hanya salah satu orang yang beruntung.”
“Mungkin, jika kau hidup lima ratus tahun yang lalu. Tapi Kristal itu sudah disegel oleh Delta sebelum kematiannya. Kristal-kristal tersebut tidak bisa digunakan oleh orang sembarangan. Kami memanggil para pengguna dengan sebutan user. Kami akan melindungimu dan melatihmu di Havenland. Untuk itu, kau harus tinggal di sini sementara.”
“Tunggu dulu! Aku bahkan tidak tahu siapa yang akan membunuhku! Yang aku tahu, kalian akan mengurungku di sini. Bagaimana dengan keadaan Lide? Aku tidak menemukan seseorang di sana, mereka semua hilang!” Aku menatap tajam Ketua Penjaga. Ia memejamkan matanya dan berkata, “Tidak ada yang selamat di Lide. Sebagian sudah menajdi santapan mereka, dan sebagian lagi mungkin dijadikan budak. Kami melindungimu dari bahaya yang hanya bisa diakhiri oleh dirimu sendiri. Joker,”

                Setelah cukup lama berbicara dengan Ketua Penjaga, aku diantar ke ruanganku oleh Vance Connor. Aku terbaring di tempat tidurku. Tatapanku tertuju pada langit-langit yang tinggi dan berbau gothic. Besok adalah hari dimana aku akan “belajar” segala hal mengenai Vampculla, yang sekarang aku tahu bahwa mahluk pemuja darah tersebut terbagi menjadi dua kelompok. Bagiku sama saja. Mereka telah membunuh manusia. Dan mungkin akan membunuhku suatu saat nanti.

Mataku terpejam lelah. Lelah memikirkan Lide. Lelah memikirkan sesepuh dan para penduduk Lide. Lelah memikirkan segala kesalahan besarku. Ini pertama kalinya aku merebahkan tubuhku setelah dua hari yang tidak dapat dipercaya. Aku takut. Semuanya tampak asing. Aku tidak berani membuka mataku. Dan sebelum aku tahu, jiwaku sudah tertidur. Aku menunggu hari esok. Yang mungkin akan merubah segala takdirku.

To be Continued . . .



28 Jan 2012

A Girl's Journey

Mama, Mama, tolong bawa aku pulang
Di luar sini aku sendiri, di tengah hutan hilang.
Aku bertemu manusia serigala buruk rupa yang memburuku
Ia menunjukkan gigi-giginya, langsung mengincar tubuhku

Mama, Mama, tolong bawa aku pulang
Di luar sini aku sendiri, di tengah hutan yang hilang.
Aku dihadang vampir, wajah tua busuk yang berkerut
Ia menunjukkan gigi-giginya, langsung mengincar leherku yang lembut

Mama, Mama, gendong aku ke tempat tidur
Aku tak sanggup pulang sendiri, setengah mati dan hancur.
Aku bertemu dengan pria itu, keelokannya melumpuhkan tubuhku
Ia menunjukkan senyumnya padaku,
dan langsung menghujam hatiku.



Follow Us

Advertisment

http://1.bp.blogspot.com/__k1lsF3KXWk/TU8eyOsb9CI/AAAAAAAAAJk/zJ98vOEiZE4/s190/your_ad_here.png

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

© HexaCrown All rights reserved | Theme Designed by Seo Blogger Templates Published.. Blogger Templates