25 Des 2011

A Story Without Ends (Girl Version)

  Written by: Hexacrown

Aku tidak suka berada di sini. Istana yang menyebalkan, seorang Ayah yang berkedudukan raja, tatapan takut semua orang, bisikan mencurigakan, dan terlebih lagi, kemampuanku yang menyebabkan aku tidak diskuai semua orang. Kemampuan untuk melihat masa lalu seseorang hanya dengan menyentuhnya.
Aku berdiri di tengah-tengah aula yang didekor sangat glamor. Terlalu glamor. Pesta topeng yang diadakan demi menyambut hari keberuntungan Raja. Lelucon yang bagus. Aku tidak suka pesta ini, kecuali pada saat aku bertatapan dengan pemuda bertopeng yang berdiri jauh di depanku. Ia berjalan menghampiriku. Semakin dekat dan semakin dekat hingga jarak kami hanya berbeda beberapa inci saja. Dengan suaranya yang lembut ia mengatakan, “Maukah kau menari denganku, Tuan Putri?” sambil memberi hormat.
Aku menerimanya tanpa menggumamkan sepatah kata apapun. Kami menari dan terus menari. Hingga aku tersadar bahwa ini pertama kalinya kemampuanku tidak berfungsi. Aku tidak bisa melihat masa lalu pemuda ini. Sayang ini pesta topeng, seandainya ini hanya pesta dansa biasa, pasti aku sudah melihat wajahnya. Musik berakhir, dan aku membuka topengku sambil berkata, “Apa kau ingin melanjutkan tariannya?” Ia tersenyum dan membalas dengan sopan, “Tentu, Tuan Putri. Jika kau berkenan.” Aku benar-benar ingin melihat wajahnya. Tanpa berpikir panjang, aku mengangkat tanganku, berniat untuk membuka topeng hitamnya. Tepat sebelum aku membukanya, ia menahanku. “Maaf, Tuan Putri. Jika kau melihat wujud asliku, kau pasti akan membenciku,” dan iapun pergi meninggalkan istana secepat angin.
Pesta sudah selesai kemarin malam. Aku tidak bisa melupakan bayangan yang indah itu. Kata-kata terakhirnya terus mengisi pikiranku yang kosong. “P-permisi, Tuan Putri. Raja... Raja memanggil Tuan Putri,” kata seorang pelayan ketakutan. Belum pernah satupun orang yang mengetahui kemampuanku tidak takut kepadaku. Aku segera menghampiri Raja. Ayahku. Aku bahkan terkadang  lupa bahwa raja itu adalah ayahku. Ia memanggilku hanya saat kemampuanku dibutuhkan.
Aku menghampiri Raja dengan tatapannya yang sinis. Dengan hanya berkata beberapa kata, ia menyuruhku menggunakan kemampuanku untuk melihat masa lalu pria yang sudah tak berdaya di depanku. Tangannya yang diikat sangat kuat, menandakan bahwa ia adalah tahanan istana ini. Dengan lembut aku menyentuh wajahnya dan menggumamkan kata apapun yang sesuai dengan penglihatan yang kulihat.
“Terlahir di daerah pedesaan. Pencuri yang handal. Pembunuh. Assassins.... Ah!” Aku melihat pemuda bertopeng itu. Ia adalah anggota Assassins. Aliansi yang paling diburu istana. Siapapun yang terlibat dalam Aliansi Assassins akan langsung dipenggal tanpa berpikir panjang.  Sesaat aku ingin meihat lebih jauh, Raja sudah menyuruh para prajurit untuk memenggal kepalanya.
Seminggu berlalu, aku masih tidak bisa berhenti mengkhawatirkannya. Bagaimana jika suatu saat ia kembali? Tentu itu akan membuatku bahagia, tapi itu sekaligus kematian baginya! Hingga suatu malam, kemampuanku berlaku aneh. Aku tidak menyentuh apapun, tapi aku melihat gambaran-gambaran. Tunggu, ini bukan masa lalu, ini masa depan! Perlahan gambaran tersebut semakin jelas. Ini... kematian ayahku!
Aku berlari ke ruang ayahku berada. Hal itu tentu membuatnya kaget. Wajahnya tampak marah dan lebih marah setelah aku memberitahunya bahwa ia akan meninggal sebentar lagi. Tangannya menampar wajahku yang dingin. Aku terpental ke sudut ruangan yang gelap. Tiba-tiba, pintu terbuka dengan pelan. Ayah tak melihatnya, akupun tak menghentikannya. Pedang itu menembus tubuhnya dan jatuh seketika. Aku bangkit dari tempatku terjatuh, dan melihat sang pembunuh yang ternyata pemuda bertopeng itu. Ia terlihat kaget. Sangat kaget. Aku mendekat dan berkata, “Topeng itu, apakah itu kau?”
Maaf, Putri Wilhelmina. Aku terpaksa melakukannya,” katanya pelan. “Jangan pergi. Biarkan aku melihatmu,” kataku. Aku menyentuh wajahnya, pelan dan mulai melihat masa lalunya yang suram. Dan pada saat itulah aku tahu bahwa namanya adalah Clarth, bukan pemudan bertopeng. “Baiklah, aku mengerti. Kau disuruh seseorang. Ini... bukan salahmu,” kataku. Terdengar suara langkah kaki dari depan ruangan. “Tampaknya para penjaga sudah datang. Aku harus pergi. Aku akan menebus dosaku dengan menjagamu dengan jiwaku, Tuan Putri, tidak, Ratu.”
Para penjaga memasuki ruangan dan mengamankanku. Esok harinya aku diutus menjadi ratu kerajaan dan mengubah segala struktur kerajaan yang hanya menindas warga. Aku juga menghapus buruan Aliansi Assassins setelah mengetahui bahwa Clarth yang memimpin aliansi tersebut. Kemampuanku juga bertambah kuat, yaitu bisa melihat masa depan meski hanya sedikit. Karena itulah, aku akan tetap menunggu kehadirannya. Menunggu dan menunggu, karena aku tahu bahwa suatu saat kami akan bertemu lagi. Suatu saat.
To be Continued (Forever)


12 Des 2011

A Story Without Ends (Boy Version)

Written by: Hexacrown

Kau begitu indah. Begitu mempesona. Ini adalah hari pertama aku berjumpa denganmu. Di pesta topeng istana yang suatu saat akan menjadi milikmu. Kau dan duniaku yang berbeda tidak terlihat di pesta topeng ini. Tanpa sadar, kami bertatapan. Aku berjalan mendekatinya dan berkata, “Maukah kau menari  denganku, Tuan Putri?” sambil memberi hormat. Tangannya menyentuh tanganku, tanda menerima. Entah mengapa, tangannya begitu dingin. Kami menari dengan lembut. Mata kami saling bertatapan. Ini bagaikan surga. Ia menari bagaikan seekor kupu-kupu yang bersinar. Rambutnya yang halus menyentuh pundakku. Ia lalu melepas topengnya. Aku melihat wajah cantiknya yang tidak bahagia. Bukan karena tarian kami. “Apa kau ingin melanjutkan tariannya?” suara lembut itu tampak pilu. “Tentu, tuan putri. Jika kau berkenan,” kataku sopan. Tangannya meraih topengku. Tepat sebelum ia sempat membukanya, aku menahannya. Kepalanya dimiringkan tanda bingung. “Maaf, tuan putri. Jika kau melihat wujud asliku, kau pasti akan membenciku.”

            Aku berlari keluar istana. Ya, ia tak akan pernah sudi untuk melihatku lagi jika ia tahu bahwa aku pembunuh bayaran. Apalagi ia tahu bahwa aku akan membunuh raja dari istana tersebut, yang berarti ayahnya. Tadi.

            Seminggu berlalu. Ketua aliansi Assassins menghukumku karena tidak menjalankan tugas dengan baik. Hukuman berat tentunya, karena baru kali ini aku gagal menjalankan misi. Ketua aliansi Assassins bagai seorang ayah bagiku. Ia yang membesarkanku dari kecil. Tapi aku tidak pernah menyukainya. Hal yang paling ia suka adalah uang. Tidak peduli siapa yang ia bunuh, baik jahat maupun baik, akan dibasminya jika ada yang menyuruhnya dan memberinya imbalan yang cukup besar. Aliansi yang dibenci dan ditakuti seluruh penduduk kota dan istana. Tapi, tidak pernah ada yang bisa menemukan lokasi aliansi kami.

            Masa hukuman akhirnya selesai dengan sangat lambat. Ketua menatapku dengan tajam dan berkata, “Lakukan apa yang kumau. Jika kau gagal lagi, akan kubunuh gadis itu.” Aku terdiam sejenak dan menatapnya kembali, “Aku tidak akan menuruti perintahmu setelah misi ini selesai. Aku akan bekerja dengan sendiri. Aku hanya akan membunuh orang jahat sepertimu.” Kataku dan beranjak pergi menuju istana.

            Hari sudah malam. Langkahku bagaikan seekor kucing yang sedang mencari mangsa. Ya, itu sang raja, kataku dalam hati. Tanpa sepatah katapun aku menghunuskan pedangku dari belakang sang raja. Aku tak tahu kalau di sana berdiri seorang putri yang waktu itu bersamaku. Ia tampak kaget. Sangat kaget. Kami terdiam. Ia mendekat dan berkata dengan pelan, “Topeng itu... Apakah itu kau?”

            Aku selalu memakai topeng ini dalam misi apapun. “Maaf, Putri Wilhelmina. Aku terpaksa melakukannya,”

            “Jangan pergi. Biarkan aku melihatmu.” Ia berjalan mendekatiku dan membuka topengku. Ia tampak melihat diriku dengan sungguh-sungguh. Bahkan tampak seperti sedang menerawang. “Baiklah, aku mengerti. Kau disuruh seseorang. Ini... bukan salahmu,” katanya lembut. Terdengar suara langkah kaki dari depan ruangan. “Tampaknya para penjaga sudah datang. Aku harus pergi. Aku akan menebus dosaku dengan menjagamu dengan jiwaku, tuan putri, tidak, ratu,”

            Aku kembali dan membunuh ketua aliansi Assassins, dan menjadi ketua yang baru, serta memperbarui peraturan-peraturan, yaitu kami hanya membunuh orang-orang jahat, bahkan kami bisa saja membunuh orang yang menyuruh kami untuk membunuh.

            Tuan putri Wilhelmina telah menjadi ratu istana dan memerintah dengan sangat baik. Aku akan terus berlari dan berlari mengejarnya. Meski tidak akan pernah sampai. Aku akan terus melindunginya hingga akhir hayatku. Meski ia bahkan tidak tahu siapa yang telah menjadi bayangannya.

To be Continued (Forever)

 

Follow Us

Advertisment

http://1.bp.blogspot.com/__k1lsF3KXWk/TU8eyOsb9CI/AAAAAAAAAJk/zJ98vOEiZE4/s190/your_ad_here.png

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

© HexaCrown All rights reserved | Theme Designed by Seo Blogger Templates Published.. Blogger Templates