25 Des 2011

A Story Without Ends (Girl Version)

  Written by: Hexacrown

Aku tidak suka berada di sini. Istana yang menyebalkan, seorang Ayah yang berkedudukan raja, tatapan takut semua orang, bisikan mencurigakan, dan terlebih lagi, kemampuanku yang menyebabkan aku tidak diskuai semua orang. Kemampuan untuk melihat masa lalu seseorang hanya dengan menyentuhnya.
Aku berdiri di tengah-tengah aula yang didekor sangat glamor. Terlalu glamor. Pesta topeng yang diadakan demi menyambut hari keberuntungan Raja. Lelucon yang bagus. Aku tidak suka pesta ini, kecuali pada saat aku bertatapan dengan pemuda bertopeng yang berdiri jauh di depanku. Ia berjalan menghampiriku. Semakin dekat dan semakin dekat hingga jarak kami hanya berbeda beberapa inci saja. Dengan suaranya yang lembut ia mengatakan, “Maukah kau menari denganku, Tuan Putri?” sambil memberi hormat.
Aku menerimanya tanpa menggumamkan sepatah kata apapun. Kami menari dan terus menari. Hingga aku tersadar bahwa ini pertama kalinya kemampuanku tidak berfungsi. Aku tidak bisa melihat masa lalu pemuda ini. Sayang ini pesta topeng, seandainya ini hanya pesta dansa biasa, pasti aku sudah melihat wajahnya. Musik berakhir, dan aku membuka topengku sambil berkata, “Apa kau ingin melanjutkan tariannya?” Ia tersenyum dan membalas dengan sopan, “Tentu, Tuan Putri. Jika kau berkenan.” Aku benar-benar ingin melihat wajahnya. Tanpa berpikir panjang, aku mengangkat tanganku, berniat untuk membuka topeng hitamnya. Tepat sebelum aku membukanya, ia menahanku. “Maaf, Tuan Putri. Jika kau melihat wujud asliku, kau pasti akan membenciku,” dan iapun pergi meninggalkan istana secepat angin.
Pesta sudah selesai kemarin malam. Aku tidak bisa melupakan bayangan yang indah itu. Kata-kata terakhirnya terus mengisi pikiranku yang kosong. “P-permisi, Tuan Putri. Raja... Raja memanggil Tuan Putri,” kata seorang pelayan ketakutan. Belum pernah satupun orang yang mengetahui kemampuanku tidak takut kepadaku. Aku segera menghampiri Raja. Ayahku. Aku bahkan terkadang  lupa bahwa raja itu adalah ayahku. Ia memanggilku hanya saat kemampuanku dibutuhkan.
Aku menghampiri Raja dengan tatapannya yang sinis. Dengan hanya berkata beberapa kata, ia menyuruhku menggunakan kemampuanku untuk melihat masa lalu pria yang sudah tak berdaya di depanku. Tangannya yang diikat sangat kuat, menandakan bahwa ia adalah tahanan istana ini. Dengan lembut aku menyentuh wajahnya dan menggumamkan kata apapun yang sesuai dengan penglihatan yang kulihat.
“Terlahir di daerah pedesaan. Pencuri yang handal. Pembunuh. Assassins.... Ah!” Aku melihat pemuda bertopeng itu. Ia adalah anggota Assassins. Aliansi yang paling diburu istana. Siapapun yang terlibat dalam Aliansi Assassins akan langsung dipenggal tanpa berpikir panjang.  Sesaat aku ingin meihat lebih jauh, Raja sudah menyuruh para prajurit untuk memenggal kepalanya.
Seminggu berlalu, aku masih tidak bisa berhenti mengkhawatirkannya. Bagaimana jika suatu saat ia kembali? Tentu itu akan membuatku bahagia, tapi itu sekaligus kematian baginya! Hingga suatu malam, kemampuanku berlaku aneh. Aku tidak menyentuh apapun, tapi aku melihat gambaran-gambaran. Tunggu, ini bukan masa lalu, ini masa depan! Perlahan gambaran tersebut semakin jelas. Ini... kematian ayahku!
Aku berlari ke ruang ayahku berada. Hal itu tentu membuatnya kaget. Wajahnya tampak marah dan lebih marah setelah aku memberitahunya bahwa ia akan meninggal sebentar lagi. Tangannya menampar wajahku yang dingin. Aku terpental ke sudut ruangan yang gelap. Tiba-tiba, pintu terbuka dengan pelan. Ayah tak melihatnya, akupun tak menghentikannya. Pedang itu menembus tubuhnya dan jatuh seketika. Aku bangkit dari tempatku terjatuh, dan melihat sang pembunuh yang ternyata pemuda bertopeng itu. Ia terlihat kaget. Sangat kaget. Aku mendekat dan berkata, “Topeng itu, apakah itu kau?”
Maaf, Putri Wilhelmina. Aku terpaksa melakukannya,” katanya pelan. “Jangan pergi. Biarkan aku melihatmu,” kataku. Aku menyentuh wajahnya, pelan dan mulai melihat masa lalunya yang suram. Dan pada saat itulah aku tahu bahwa namanya adalah Clarth, bukan pemudan bertopeng. “Baiklah, aku mengerti. Kau disuruh seseorang. Ini... bukan salahmu,” kataku. Terdengar suara langkah kaki dari depan ruangan. “Tampaknya para penjaga sudah datang. Aku harus pergi. Aku akan menebus dosaku dengan menjagamu dengan jiwaku, Tuan Putri, tidak, Ratu.”
Para penjaga memasuki ruangan dan mengamankanku. Esok harinya aku diutus menjadi ratu kerajaan dan mengubah segala struktur kerajaan yang hanya menindas warga. Aku juga menghapus buruan Aliansi Assassins setelah mengetahui bahwa Clarth yang memimpin aliansi tersebut. Kemampuanku juga bertambah kuat, yaitu bisa melihat masa depan meski hanya sedikit. Karena itulah, aku akan tetap menunggu kehadirannya. Menunggu dan menunggu, karena aku tahu bahwa suatu saat kami akan bertemu lagi. Suatu saat.
To be Continued (Forever)


12 Des 2011

A Story Without Ends (Boy Version)

Written by: Hexacrown

Kau begitu indah. Begitu mempesona. Ini adalah hari pertama aku berjumpa denganmu. Di pesta topeng istana yang suatu saat akan menjadi milikmu. Kau dan duniaku yang berbeda tidak terlihat di pesta topeng ini. Tanpa sadar, kami bertatapan. Aku berjalan mendekatinya dan berkata, “Maukah kau menari  denganku, Tuan Putri?” sambil memberi hormat. Tangannya menyentuh tanganku, tanda menerima. Entah mengapa, tangannya begitu dingin. Kami menari dengan lembut. Mata kami saling bertatapan. Ini bagaikan surga. Ia menari bagaikan seekor kupu-kupu yang bersinar. Rambutnya yang halus menyentuh pundakku. Ia lalu melepas topengnya. Aku melihat wajah cantiknya yang tidak bahagia. Bukan karena tarian kami. “Apa kau ingin melanjutkan tariannya?” suara lembut itu tampak pilu. “Tentu, tuan putri. Jika kau berkenan,” kataku sopan. Tangannya meraih topengku. Tepat sebelum ia sempat membukanya, aku menahannya. Kepalanya dimiringkan tanda bingung. “Maaf, tuan putri. Jika kau melihat wujud asliku, kau pasti akan membenciku.”

            Aku berlari keluar istana. Ya, ia tak akan pernah sudi untuk melihatku lagi jika ia tahu bahwa aku pembunuh bayaran. Apalagi ia tahu bahwa aku akan membunuh raja dari istana tersebut, yang berarti ayahnya. Tadi.

            Seminggu berlalu. Ketua aliansi Assassins menghukumku karena tidak menjalankan tugas dengan baik. Hukuman berat tentunya, karena baru kali ini aku gagal menjalankan misi. Ketua aliansi Assassins bagai seorang ayah bagiku. Ia yang membesarkanku dari kecil. Tapi aku tidak pernah menyukainya. Hal yang paling ia suka adalah uang. Tidak peduli siapa yang ia bunuh, baik jahat maupun baik, akan dibasminya jika ada yang menyuruhnya dan memberinya imbalan yang cukup besar. Aliansi yang dibenci dan ditakuti seluruh penduduk kota dan istana. Tapi, tidak pernah ada yang bisa menemukan lokasi aliansi kami.

            Masa hukuman akhirnya selesai dengan sangat lambat. Ketua menatapku dengan tajam dan berkata, “Lakukan apa yang kumau. Jika kau gagal lagi, akan kubunuh gadis itu.” Aku terdiam sejenak dan menatapnya kembali, “Aku tidak akan menuruti perintahmu setelah misi ini selesai. Aku akan bekerja dengan sendiri. Aku hanya akan membunuh orang jahat sepertimu.” Kataku dan beranjak pergi menuju istana.

            Hari sudah malam. Langkahku bagaikan seekor kucing yang sedang mencari mangsa. Ya, itu sang raja, kataku dalam hati. Tanpa sepatah katapun aku menghunuskan pedangku dari belakang sang raja. Aku tak tahu kalau di sana berdiri seorang putri yang waktu itu bersamaku. Ia tampak kaget. Sangat kaget. Kami terdiam. Ia mendekat dan berkata dengan pelan, “Topeng itu... Apakah itu kau?”

            Aku selalu memakai topeng ini dalam misi apapun. “Maaf, Putri Wilhelmina. Aku terpaksa melakukannya,”

            “Jangan pergi. Biarkan aku melihatmu.” Ia berjalan mendekatiku dan membuka topengku. Ia tampak melihat diriku dengan sungguh-sungguh. Bahkan tampak seperti sedang menerawang. “Baiklah, aku mengerti. Kau disuruh seseorang. Ini... bukan salahmu,” katanya lembut. Terdengar suara langkah kaki dari depan ruangan. “Tampaknya para penjaga sudah datang. Aku harus pergi. Aku akan menebus dosaku dengan menjagamu dengan jiwaku, tuan putri, tidak, ratu,”

            Aku kembali dan membunuh ketua aliansi Assassins, dan menjadi ketua yang baru, serta memperbarui peraturan-peraturan, yaitu kami hanya membunuh orang-orang jahat, bahkan kami bisa saja membunuh orang yang menyuruh kami untuk membunuh.

            Tuan putri Wilhelmina telah menjadi ratu istana dan memerintah dengan sangat baik. Aku akan terus berlari dan berlari mengejarnya. Meski tidak akan pernah sampai. Aku akan terus melindunginya hingga akhir hayatku. Meski ia bahkan tidak tahu siapa yang telah menjadi bayangannya.

To be Continued (Forever)

 

1 Okt 2011

Cursed and Blessed (part III)

 Written by: Hexacrown

Tiba-tiba, waktu terasa begitu lama. Serpihan kaca yang tersebar di seluruh ruangan. Bau pepohonan ek terbawa oleh hembusan angin melalui jendela yang terbuka. Suara dinginnya angin yang membuat merinding. Terlebih lagi, sesosok raksasa berdiri tepat di depanku. Hal yang bisa aku lakukan hanyalah terdiam. dab nenikmati menit terakhir hidupku. Mungkin seharusnya aku tidak kabur malam itu. Ini semua salahku. Aku mengingkari janji para sesepuh Lide. Lide hancur karena diriku yang egois. Mungkin memang takdirku untuk berakhir di tangan mereka.

Ya, aku sudah siap. Aku memejamkan mata perlahan. Oh Tuhan, semoga tidak terasa sakit. Suara menggeram marah mahluk itu menderu di telingaku. Jantungku berdegup kencang. Sangat kencang. Tiba-tiba, aku mendengar suara kaca pecah dari arah jendela didepanku, lebih tepatnya lagi, dibelakang mahluk tersebut. Aku tersentak. Pria itu! Pria yang kutemui di Hutan Selatan! Nasibku sungguh sial. Belum selesai dimakan oleh satu mahluk buas, muncul lagi Vampcula lainnya. 

Pria itu mengeluarkan pedang berwarna ungu gelap dan menusuk mahluk tersebut. Mahluk itu meraung kesakitan sampai akhirnya tak bersuara lagi dan berubah menjadi serpihan kristal putih. Aku duduk terdiam. Tampaknya persiapan pengorbananku tertunda untuk beberapa saat. Pria itu menatapku lama dan akhirnya mengulurkan tangannya untuk membantuku bangun. Entahlah, terakhir kali aku bertemu dengannya, ia tak bersikap ramah. Tapi setidaknya aku harus bersikap sopan kepada penyelamat "sementara" ku. 

"Kau menggunakan Kristal Atlantis?" tanyanya ketus.
"Kristal apa?"
"Kristal Atlantis, jangan bilang kau tidak tahu."
"Aku tidak tahu."
Ia melihatku dengan tatapan aneh dan mendesah. "Kau tidak tahu tapi kau menggunakannya? Kristal Atlantis tidak bisa digunakan oleh sembarang orang! Jangan membohongiku, Delphine Frozz!" katanya sambil menodong pedang ungu itu tepat di depan leherku.
"Hei! Jangan paksa aku! Aku benar-benar tidak tahu. Jika yang kau maksud adalah batu besar yang bersinar bagai mahluk luar angkasa yang merasuki tubuhku secara tiba-tiba itu adalah Kristal Atlantis, ya! Aku melihatnya tepat sebelum monster itu datang! Tapi jangan salahkan aku jika batu bodoh itu yang merasukiku. Tapi, bagaimana kau tahu namaku?"
"Hm. Benar yang dikatakan "Ketua Penjaga". Kau benar-benar kehilangan ingatanmu. Sekarang, ikut aku." katanya sambil menarik tanganku.
"Tidak mau! Aku tidak percaya oleh vampcula. Kalian telah membunuh para penduduk Lide, kan? Aku tak akan memaafkanmu!"
"Asal kau tahu saja, ada dua jenis dari suku kami, vampcula. Ceritanya sangat panjang, ini akan memakan waktu. Apa kau mau mendengarkan?"
"Baiklah," jawabku ragu-ragu.

"Sebenarnya, vampcula adalah sebutan para manusia memanggil kami. Kami tidak dibedakan di mata manusia. Padahal, kami jelas berbeda. Ace dan Joker. Mulanya hanya ada Ace. Kami para Ace, dilindungi oleh tujuh peri keabadian. Mereka memberikan Air Suci Nympha kepada kami, sehingga kami tidak haus akan darah. Mereka juga memberikan pesan mereka kepada para "Penjaga". Pulau ini adalah dunia kami. Dulu, tidak ada manusia yang dapat melihat tempat ini. Sampai suatu saat, Delta, manusia pertama yang dapat melihat pulau ini, memasuki wilayah kami. Delta pula yang pertama kali membawa delapan belas Kristal Atlantis ke Orbis, nama pulau ini. Para Ace mengambil Kristal Atlantis tersebut sebagai tanda terima kasih Delta karena telah memberikan tempat tinggal di Orbis. Hingga suatu hari, salah satu Ace menggunakan Kristal Atlantis tersebut, hingga ia mendapatkan kekuatan yang lebih. Semua Ace berebut mendapatkan kekuatan itu. Hingga akhirnya, tersisa satu Kristal Atlantis. Terjadi kekacauan di negeri kami. Ketujuh belas Ace yang telah menggunakan kristal beranggapan bahwa Delta berusaha menghancurkan Orbis secara perlahan. Mereka mengutuskan untuk menghukum mati Delta. Delta yang marah, mengambil kembali Kristal Atlantis dengan membunuh Ace yang telah menggunakannya. Hanya saja, jika orang yang mendapatkan kristal tersebut dibunuh, kristal itu akan keluar dari tubuh pengguna dan hilang ke suatu tempat, dan harus dicari. Delta telah membunuh enam belas Ace pengguna. Sayangnya, Delta dibunuh oleh Ace pengguna terakhir dengan meminum darahnya, suatu perbuatan terhina dimata Ace. Ketujuh peri keabadian marah dan mengutuk Ace tersebut. Para peri keabadian tak membiarkan mereka menggunakan Air Suci Nympha lagi untuk selama-lamanya. Ace yang telah diubah tersebut, menjadi sangat marah dan membuat peradaban baru, Joker."

"... Baiklah," kataku dan terdiam sejenak. "Jadi apa maumu?" lanjutku.
"Aku ingin kau ikut bersamaku dan pergi ke Havenland, tempat para Ace"
"Bagaimana aku bisa mempercayai ceritamu?" tanyaku.
"Vance Connor. Ace punya nama. Joker tidak."

To Be Continued . . .

 

8 Sep 2011

Cursed and Blessed (Part II)

 Written by: Hexacrown

Lelah. Itulah yang bisa kurasakan. Aku membuka mataku perlahan. Ini sudah terlalu pagi untuk membiarkan diriku tertidur. Terbaring di dalam dinginnya hutan. Rumput yang lembut dan berembun membuatku malas untuk bergerak. Takut bercampur bingung karena mengetahui aku yang telah tertidur semalaman di tengah hutan yang lebih dingin dair yang kau kira. Aku mengingat kejadian tadi malam secara perlahan.Kegelapan. Ketakutan. Entahlah. Tapi tiba-tiba, aku mengingat sesuatu yang penting. Vampcula. Ya, aku berlari balik menuju desa setelah melihat Vampcula yang pada awalnya kukira manusia biasa.

Aku berdiri dan melanjutkan langkahku menuju desa. Tubuhku masih terasa sakit akibat dingin yang menusuk seluruh kulitku. Semua imajinasi negatif secara terus menerus merasuki pikiran seiring dengan langkahku. Tiba-tiba, aku mendengar suara bisikan, "Larilah, rusa putih. Lari dan terus berlari". Entah kenapa aku tidak merasa takut, karena Lide sudah tampak jelas di depanku.

Aku termenung sejenak, tepat di depan gerbang Lide. Ada yang aneh di tempat ini. Seiring memasuki Lide, aku baru menyadarinya. Tiada siapapun disini. Jantungku berdegup kencang. Kakiku enggan untuk melangkah dan mengatakan untuk pergi dari sini, tapi bagaimanapun ini rumahku juga. Aku melangkah menuju rumah sesepuh yang merupakan rumahku juga selama 13 tahun terakhir. 

Kubuka pintu masuk yang sudah reot dan sempat berpikir untuk mengucapkan, "Selamat siang". Tapi tempat ini kosong dan berbau sangat tidak nyaman. Seperti bau besi. Entahlah. Aku belum pernah mencium bau ini. Ada sesuatu yang menarik bagiku. Benda berkilauan berwarna biru yang melawan gravitasi. Ya, terbang. Benda itu seperti kristal, tapi bukan kristal. Benda itu tidak disini terakhir kali aku dirumah ini, sebelum aku dijadikan sebagai "pengorbanan". Benda itu menghipnotisku, aku mendekat dan terus mendekat. Akhirnya aku menyentuh benda itu. Cahayanya semakin terang dan semakin berwarna biru. Tiba-tiba, benda itu masuk ke dalam tubuhku. Entah mengapa aku tidak kaget dengan hal tersebut, malahan, ada perasaan bahagia yang meluap-luap. Benda itu seperti mengisiku dan menjadi energi untukku.

Tanpa sadar, mahluk itu sudah muncul tepat di belakangku melalui kaca yang baru saja dipecahkannya. Tapi, bukan mahluk yang kutemui semalam, kali ini berbeda, yang ini lebih jelek dan berantakan. Dan tentu saja kali ini aku kaget dan ketakutan. Mahluk itu tampak ingin memakanku secara utuh. Matanya yang merah dan taringnya yang tampak seperti pisau sudah siap untuk menyerangku. Ya, mata seorang Vampcula akan berwarna merah jika ia kurang makan, kurang darah yang kumaksud. Dan di saat itulah mereka akan menjadi buas.

Aku terpojok. Tanganku mengenai serpihan kaca. Itulah hal terburuk yang akan terjadi. Tanganku mengalirkan darah beserta aromanya, menyebabkan vampcula tersebut tak segan-segan menyerangku. Ia tak butuh menghipnotisku karena aku sudah begitu tak berdaya. Apa yang harus kulakukan sekarang?

To Be Continued . . .


30 Jul 2011

Cursed and Blessed (part I)

Written by: Hexacrown

Vampcula. Itulah cara kami memanggil mereka. Kulitnya yang sangat putih, membantu mereka untuk melakukan kamuflase di musim salju yang dingin. Kemampuannya berlari sepuluh kali lebih cepat dibandingkan manusia. Taringnya yang telah lama ditajamkan dapat menghancurkan tulang-tulang manusia. Mereka juga dapat menghipnotis mangsanya. Sekali saja kau melihat matanya, kau tidak akan sama seperti dulu lagi.

Lide adalah suku yang terletak di tengah-tengah pulau yang dikelilingi oleh pegunungan yang tinggi. Pohon pinus yang sangat tebal akan selalu tampak dimana pun kau melihat. Salju yang sangat dingin dan kejam, membuat tempat ini seakan-akan tempat yang paling horor di dunia. Tidak ada yang hidup di pulau salju ini kecuali kami dan monster-monster itu. Kami telah memberikan persembahan khusus kepada mereka selama bertahun-tahun, yaitu nyawa manusia.

"Setiap bulan berubah menjadi merah, kalian harus memberikan satu dari penduduk kalian ke dalam jiwa hutan," begitu kata Pangeran dari Vampcula lima ratus tahun yang lalu. Sebagai balasannya, kami akam mendapatkan pulau ini dan seikrar janji bahwa tidak akan ada Vampcula yang menyentuh penduduk Lide. Sesepuh pertama suku Lide menyetujui perjanjian tersebut, meskipun beliau tahu bahwa satu orang akan mati secara bergiliran. Dan malangnya, aku adalah mangsa bulan depan.

Aku tidak pernah memiliki teman di suku ini, sejak para penduduk mengira bahwa aku termasuk salah satu monster jelek itu. Yang benar saja! Itu terjadi hanya karena aku tidak tahu siapa orangtuaku. Aku berumur delapan belas tahun dan aku merupakan orang asing yang datang dari luar pulau. Ketika umurku lima tahun, sesepuh suku Lide menemukanku di luar batas daerah Lide, dan memberikanku nama, Delphine Frozz. Aku hampr seputih vampcula, dan itu tidak normal. Itulah mengapa aku dipilih. Tidak ada yang peduli.

Mereka akan memulai pengorbanannya di Hutan Utara. Dan sekarang mereka sedang menari-nari untuk upacaranya. Aku sempat berpikir bahwa tarian itu adalah ungkapan perasaan senang mereka karena mereka bukan yang "terpilih". Aku dikurung dalam sebuah kandang sapi sekarang, agar aku tidak kabur. Yah, itu membuatku kepikiran sekarang. "Pintunya agak rusak," pikirku. Kucoba untuk membukanya dengan paksa. Dan, misi berhasil! Aku berlari ke Hutan Selatan dimana merupakan tempat yang belum pernah kuketahui sebelumnya. Aku terus berlari di hutan yang dingin ini. Udara yang dingin menusukku setiap aku berlari. Hari semakin gelap dan aku tidak bisa melihat apa-apa lagi. Sampai akhirnya, batu sial itu menghentikanku berlari dan aku terjatuh. Kakiku terkilir akibatnya. Itu sangat sakit, dan lebih menyakitkan lagi ketika aku melihat sesosok bayangan dengan mata berwarna hazel. Orang aneh, pikirku. Orang itu tampak asing karena aku belum pernah melihatnya di Lide sebelumnya. Rambutnya yang berwarna kuning keemasan dan lurus itu tampak membuatnya seperti pangerang di dongeng. Ia begitu tinggi dan tegap sehingga sedikit menakutkanku. Yang paling terpenting adalah, kulitnya tampak seperti manusia. Hidup, dan tidak mungkin dimiliki oleh seorang Vampcula.

"Delphine," bisiknya. Aku tidak tahu bagaimana caranya ia dapat mengetahui namaku. Aku melihatnya begitu tajam untuk mengingat kapan aku pernah menemuinya, tapi memori seperti itu tidak ada di benakku. Ini pertama kali aku bertemunya. Aku merasa ada yang aneh. Instingku berkata dia sangat menakutkan dan aku seharusnya lari. Belum sempat aku berkata apa-apa, hal yang paling mengerikan muncul. Ia memperlihatkan taring tajamnya dan berkata, "Kau telah memilih jalan yang salah".

To be Continued . . .


29 Jul 2011

Dave Feinberg - The Square Root of 3

I'm sure that I will always be
A lonely number like root three

The three is all that's good and right,
Why must my three keep out of sight
Beneath the vicious square root sign,
I wish instead I were a nine

For nine could thwart this evil trick,
with just some quick arithmetic

I know I'll never see the sun, as 1.7321
Such is my reality, a sad irrationality

When hark! What is this I see,
Another square root of a three

As quietly co-waltzing by,
Together now we multiply
To form a number we prefer,
Rejoicing as an integer

We break free from our mortal bonds
With the wave of magic wands

Our square root signs become unglued
Your love for me has been renewed
_________________________________________________________________________________
That's the most favorite poem in my life by Dave Feinberg. He inspires me.
Follow Us

Advertisment

http://1.bp.blogspot.com/__k1lsF3KXWk/TU8eyOsb9CI/AAAAAAAAAJk/zJ98vOEiZE4/s190/your_ad_here.png

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

© HexaCrown All rights reserved | Theme Designed by Seo Blogger Templates Published.. Blogger Templates